Di Ambang Ramadhan
di ambang Ramadhan
ada kaki yang kecundang
melintasi qalbi
mencari mutiara hati
tersembunyi di dalam kolam yang keruh
jemput si undan singgahnya tiada
memanggil kedidi terbang menjauh
sepekan sudah waktu bertemankan sunyi
merimbun duka mengait syair terpinggir
mengharap rahmat titis air langit
menangis, renyai berderai harapkan
sudahnya terik mendung bertamu enggan
pula bayu membisu
kian hari hati merekah gersang
dalam diam relung hati rajuk berbisik
kata pujuk mana dirujuk, di situ pulang hampa
diam saja bermuram durja
melangut di antara malam
mencari hilang penglipur lara
tafakur jua dalam akur
dulu lupa, kini kembali
pada sejdah usang itu jua
tersambut titis kesal airmata
Mencari Nur Qalbi
suluh bagai bersungguh mahu
cari mana sembunyi
di antara satu ruang cahaya
bertompokan di dalam gelap
cari di mana, redhaNya
begini lagaknya, malam semarak
berarak gelita menutup seroja
putih kelopaknya kering
kian, merasa waktu memamahnya
bakal punahkah ini kala menuju
ketenangan
sudahlah, sunyi meluka nurani
melompang puri sanubari
tercalar sehalus rambut
membuka luka jiwa
tuhan, singkapkan sekali lagi
indah cinta nur qalbi
riasan kalbu hingga bisa
terbang mengawan segala rewan
Puncak Kembara Ramadhan
adakah bintang tersipu malu
saat aku merenungnya
asyik, setiap malam?
apakah mereka berbisik
sama sendiri
lihat, dia lagi, merenung kita
di hatiku juga bintang,
ada sebutir mutiara
cahayanya amat payah kudakap
maka itu,
aku teroka Ramadhan ini
menuju puncak kembara
mahukah kalian menemaniku?
menerangi doa
menghampari sujud
menadah titis-titis keinsafan
dalam sepuluh malam yang terakhir
…
Terima kasih King. Semoga Allah SWT terus memberimu rasa dan ilham untuk berkarya dan mencipta sajak-sajak indah bermakna dan bermanfaat untuk dihayati oleh insan lain.