Senin, Mei 18th, 2009


Pembinanaan Keluarga Sakinah

1. Pembinaan Aspek Agama

Agar terbentuknya pribadi seutuhnya serta guna mendukung terwujudnya keluarga sakinah, pemimpin keluarga bertanggung jawab atas penyelenggaraan pembinaanan agama dalam keluarga.

a. Pembinaan Agama Ayah dan Ibu

Ayah dan Ibu dalam suatu keluarga merupakan pemimpin dan pendidik yang alami. yang harus mengenal, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama islam agar pembinaan berjalan dengan baik. Untuk mencapai kesuksesan dalam pembinaan agama, Ayah dan Ibu diharuskan menuntut ilmu tampa henti (terutama ilmu agama dan ilmu lainnya), sehingga menambah kewibawaan orang tua terhadap anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain.

  1. Pembinaan jiwa agama pada anak-anak

Orang tua bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya, baik pendidikan agama maupun pendidikan umum untuk tercipta manusia seutuhnya. Allah SWT. berfirman dalam Surat At-Tahrim : 6 ;

” Hai Orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka ”

Orang tua harus melakukan berbagai upaya untuk menjaga agar anak keturunannya terhindar dari siksaan api neraka.

” Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitra (suci), kedua orangtunya yang menyebabkan anaknya menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi ”

  1. Pembinaan suasana rumah tangga islami

Suasana rumah tangga islami menciptakan faktor pendukung terwujudnya keluarga sakinah, antara lain dibentuk oleh :

1. Tata ruang islami

2. Pembinaan sikap dan tingkah laku islami

3. Membudayankan kebudayaan sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah.

Contoh :

1) Halaman/ruangan rapi dan bersih,

2) Hiasan rumah yang Islami

3) Tulisan do’a-do’a (kaligrafi),

4) Ruang sholat dan lain-lain.

2. Pembinaan Sikap dan Tingkah Laku Islami

Perkataan, perbuatan pergaulan dan amal ibadah anggota keluarga mencerminkan keislaman.

a) Kebiasaan berdo’a setiap memulai dan mengakhiri pekerjaan ” Dimulai dengan Bismillah di Akhiri dengan Alhamdulillah ”

b) Kebiasaan Shalatpada awal waktu/berjemaah ” Seorang Ayah menjadi Imam bagi keluarganya ”

c) Kebisaan membersihkan tempat tidur dan ruangan

d) Ruang shalat dan lain-lain

e) Membiasakan ucapan/Kalimat Thoyyibah

f) Makan bersama dengan berdo’a

( Sumber Bacaan : Buletin Cahaya oleh ibu Hj. Rotasmi, M )

Bila Diri Sempit Hati

Okey Readers……..mari kita merenung. Camkanlah bahwa kekayaan yang paling mahal dalam mengarungi kehidupan ini adalah suasana hati kita ini. Walaupun rumah sempit, tapi suasana hati kita “plooong” lapang akan terasa luas. Walaupun tubuh kita sakit, tapi kalau hati kita ceria, sehat, akan terasa enak. Walaupun badan kita lemas, tetapi kalau hati kita tegar, akan terasa mantap. Walaupun mobil kita merek murahan, motor kita modelnya sederhana, tapi kalau hati kita indah, akan tetap terhormat. Walaupun kulit kita kehitam-hitaman, tapi kalau batinnya jelita, akan tetap mulia. Sebaliknya, apa artinya rumah yang lapang kalau hatinya sempit……apa artinya Burger, Hoka-hokabento dan segala makanan enak lain nya, kalau hati sedang membara dan gelisa….apa artinya ruangan ber-AC kalau hati mendidih……apa artinya mobil BMW kalau hatinya rusak….dan apa artinya punya istri cantik kalau hati busuk…:(
Yup…bagaimana kiat kita mengatasi suasana seperti ini ?
1. Yang pertama kita harus kondisikan dalam hati ini adalah kita harus sangat siap untuk terkecewakan, karena hidup ini tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita. Artinya kita harus siap dengan situasi dan kondisi bagaimana pun, kita tidak boleh mau dengan kondisi yang enak saja. Kita harus siap dengan kondisi yang sesulit, sepahit dan setidak enak apapun kita harus ikhlas menerimanya. Sebuah pepatah mengatakan, ” sedia payung sebelum hujan ”. Artinya hujan atau tidak hujan kita siap.
2. Kedua yang harus kita lakukan kalau toh ada orang yang mengecewakan kita, jangan terlalu ambil pusing sebab kita akan rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja…..yeah ;) ….yup yang membagikan rizki adalah Allah, yang mengangkat derajat hanya Allah, yang menghinakan juga Allah. Apa perlunya kita pusing dengan omongan orang…..sampai ’doer’ meleber tu bibir menghina kita…sungguh tidak akan kurang pemberian Allah kepada kita. Mati-matian ia menghina, yakinlah kita tidak akan hina dengan penghinaan orang. Kita hina karena kelakukaan hina kita sendiri. Nabi Muhammad SAW, dihina, tapi toh tetap cemerlang bagai intan mutiara. Sedangkan yang menghinanya, Abu jahal sengsara.
Yup……jangan ambil pusing, jangan dipikirin. Dale Carnegie dalam sebuah bukunya mengisahkan tentang seekor beruang kutup yang ganas sekali, selalu main pukul, ada pohon kecil dicabut, tumbang dan dihancurkan. Di tengah amukannya, tiba-tiba ada seekor binatang kecil yang lewat di depannya, anehnya dia tidak menghantamnya, sehingga terlintas dalam benak si beruang, ” Ah, apa perlunya menghantam yang kecil-kecil yang tidak sebanding, yang tidak merugikan kepentingan kita ”.
Yoi…Semakin mudah kita tersinggung, apalagi hanya dengan hal-hal yang kecil (sepele) maka akan sengsara hidup ini. Padahal mengapa hidup harus sengsara, karena justru kita harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal, karena kalau tidak ada yang menghina, menganiaya, atau menyakiti kapan kita bisa memaafkan?
Justru dengan ada lawan….ada yang menghina, ada yang menganiaya kita bisa memaafkan. Kalau dia masi muda, anggap dia belum bisa menghargai yang tua, dari pada sebel kepadanya. Kalau dia masih kanak-kanak, pahami tata nilai kita dengan dia berbeda, mana mungkin kita tersinggung dengan anak kecil. Kalau ada orang tua memarahi kita, jangan tersinggung, mungkin dia khilaf, karena terlalu tuanya. yup…….ambil sisi positifnya.
Okey…readers yang budiman yang pasti, ” Makin kita pemaaf, makin kita berhati lapang, makin kita bisa memahami orang lain, maka kita akan semakin tenteram dan damai dalam hidup ini baik di Dunia dan Akhirat ”. Subhaanallah ;)
(Sumber Bacaan Buletin Sakinah : KH. Abdulllah Gynastiar)