BILA KERANDA DIUSUNG

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati…(Ali Imran[3]:185).

Masih adakah orang yang meragukan bahwa dirinya akan mati? Tiap-tiap orang pasti yakin akan kematiannya, akan tetapi sangat banyak yang tenang menghadapinya. Mungkin di antara mereka beranggapan bahwa setelah mati itu tak da lagi urusan, tidak ada kehidupan. Padahal pendapat itu telah usang dan ketinggalan zaman. Yang benar setelah kematian pasti ada urusan, kalau tidak, amat celaka dan rugilah orang yang hidupnya selalu teraniaya dan menderita hingga maut menjemputnya. Sementara sungguh beruntung mereka yang hidup bergelimang kemewahan dan senantiasa menganiaya orang lain sampai akhir hidupnya. Berarti tidak ada keadilan.
Allah Azza wa Jalla Maha Adil. Tak ada satupun dari hamba-Nya yang kan dirugikan. Bukankah Allah yang telah menciptakan kita? Bukankah Dia yang menjamin rizqi kita, sehingga kita bisa tumbuh dewasa dan berakal? Bukankah Dia yang melindungi kita dari semua bahaya, di waktu siang maupun malam? Coba pikirkan, ketika kita tidur sendirian, adakah kita dapat melindungi diri kita sendiri manakala ada bahaya yang mengancam dengan tiba-tiba? Tentu tidak, bukan?
Dunia, benarkah dia kehidupan yang menipu? Seorang muslim akan menjawab, “benar”. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya yang menegaskannya di dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Kita tentu mengerti bahwa dunia ini sementara, tak bisa dibantah lagi.
:Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, ilah apapun yang lain. Tiada ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu akan binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu akn dikembalikan”(Al Qashash[28]:88).
Adakah ilmuan yang masih meragukan akan hancurnya bumi ini suatu ketika nanti? Teori kimi mana yang masih meragukan kebenarannya? Jelas, bumi akan hancur, karena zat-zat yang ad dalm bumi juga terus bereaksi begitu pula benda-benda langit lainnya, sebagaimana aslinya dulu. Kehidupan dunia akan berganti dengan kehidupan selanjutnya.
Dunia hanya sementara, semua pasti berakhir. Tak ad orang yang akan muda terus. Tak satupun bangunan yang berdiri kokoh terus tanpa usang kemudian hancur. Pernahkah kita menyaksikan keabadian suatu gedung? Dia pasti akan rusak. Itulah dunia, dia hanyalah kehidupan yang menipu.
Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Dunia adalah rumah bagi mereka yang tak pernah memilikinya, dan harta bagi merekaa yang tak pernah memilikinya. Tidak ada yang mau mengumpulkan dunia, kecuali mereka yang kurang akalnya”.(HR. Ahmad dan Baihaqy).
AJAL TIBA, KERANDAPUN DIUSUNG
“Dan datanglah sakaratul amut dengan sebenar-benarnya, itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah setiap diri, dan bersama dengan di seorang malaikat, seorang pengiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (perkara) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.” Allah berfirman: “Lemparkan olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala. Yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-rgu. Yang menyembah sembahan selain Allah, maka lemparkanlah mereka ke dalam siksaan yang sangat pedih.” (Qaaf[50]:19-26).
Aduh ngerinya mendengar kata-kata ini. Tapi mau tidak mau, setiap orang akan ditemuinya, entah kapan dan di mana. Bila ajal (maut) telah tiba, maka itu tandany kita akan berpindah tempat (alam) yang lain. Bukan berarti berakhir cerita, kehidupan masih berlanjut. Maut hanyalah satu pintu, di antara pintu-pintu kehidupan. Jadi ruh tetap hidup walaupun jasad telah rusak binasa. Dia tetap bisa merasakan sakit dan ni’mat, melihat dan mendengar, cuma tak bisa berkata-kata.
Ibnu Abi Dunia berkata:
“Pada hari wafatnya Umar bin Abdul Aziz, beliau berkata: “Dudukkan aku!” lalu didudukkan. Beliau berkata lagi, “Engkau perintah aku, tapi banyak yang tidak aku laksanakan. Engkau melarangku, tapi banyak yang aku langgar (diulangi tiga kali), dilanjutkan lagi, tiada ilah selain Allah”. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan memandang sekeliling dengan tajam. Yang hadir saat itu bertanya, “Kenapa ya Amirul Mu’minin?” beliau menjawab, “Aku melihat makhluq yang bukan manusia maupun jin”. Setelah itu beliau wafat”.
Bagi mereka yang semasa hidupnya mau taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, maka kematian adalah sesuatu yang menyenangkan baginya. Sebaliknya, bagi mereka yang suka hidup bebas dan liar tanpa mau peduli dengan aturan langit, maka kematian adalah kecelakaan dan kerugian yang luar biasa.
Maut merupakan proses berpindahnya roh manusia dari alam dunia ke alam lain. Alam yang berbeda dan berubah segala-galanya. Alam tersebut ditentukan oleh “eksistensi nilai diri” seseorang. Cara menuju ke sana pun beragam, menurut qudrat Dzat yang memiliki ruh, Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan cara yang menentang qudrat, itulah mereka yang bunuh diri, dengancar apapun, sungguh menghinakan dirinya.
Di antar cara mati yang terindah adalah mati syahid, matinya para pembela kebenaran Islam. Sebagaimana firman-Nya:
“Janganlah kalian mengira bahwa mereka yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hdup, tetapi kalian tidak menyadarinya”. (Al Baqarah[2]:154).
Akan tetapi tidak mesti seseorang yang mati mulia itu sedang berada di tengah medan peperangan. Boleh jadi ketika ia sedang mempersiapkan dirinya untuk berda’wah, di tengah perjalanan menuju tempat yang baik dengan niatan yang baik pula. Bila mayat diangkat dalam keranda dan diusung menuju kubur, maka tak ada lagi yang bermanfaat baginya, kecuali amal shalihnya. Istrinya yang cantik akan ditinggalkan, hrtanya yang melimpah akan dicampakkan, pangkatnya yang dibanggakan ditinggalkan dengan sia-sia. Apalah arti dunia bagi si mayat, bahkan dirinya akan menjadi santapan cacing-cacing tanah, kemudiaan hancur bersama tulang-belulangnya. Itulah jasadnya yang dulu senantiasa dibersihkan dan selalu dijaga kesehatannya.

Satu Tanggapan to “BILA KERANDA DIUSUNG”

Tinggalkan Balasan